Kehidupan Yang Tidak Berkenan Kepada Allah Bagai Ikat Pinggang Yang Lapuk
Yeremia 13:1-11
Siapa yang pakai ikat pinggang
disini? Menggunakan ikat pinggang sangat menolong kita kalau celana kita agak
longgar. Juga ikat pinggang memberikan rasa percaya diri kalau di tempat-tempat
umum.
Dalam konteks Yeremia, Allah
menggunakan ikat pinggang lenan untuk menyatakan kehendak-Nya kepada umat
Isreal. Penjelasan dari maksud Allah memakai ikat pinggang lenan sebagai alat
untuk menyatakan kehendak-Nya kepada Umat Israel, kita bisa lihat ayat 11.

Ay. 11 Israel bagaikan/seumpama ikat pinggang bagi Allah yang terus melekat pada pinggang-Nya. Pelajaran dari ikat pinggang yang lapuk adalah gambaran kehidupan Israel yang gagal, yang rusak (ayat. 9 &10) dikatakan disana: “Bangsa yang jahat ini, yang enggan mendengarkan perkataan-perkataan-KU. Yang mengikuti kedegilan hatinya, dan mengkuti allah lain untuk beribadah dan menyembahnya.”
Ikat pinggang kalau sudah rusak tidak
ada gunanya lagi selain dibuang. Begitulah gambaran umat Israel yang disebutkan
dalam ayat 9 &10.
Saya contohkan: dua ikat pinggang
yang satu rusak dan yang satu lagi baik dan masih baru. Pilih yang mana? Pasti
yang baru dan bagus ya! Walaupun ikat
pinggang yang rusak tadi adalah pemberian dari orang yang kita kasihi tapi
kalau sudah rusak tidak bisa dipakai lagi.
Kalau kita lihat kembali janji Allah
kepada Abraham dan keturunannya dalam Kejadian 12:1-3 luar biasa dan itu nyata
dalam kehidupan umat Israel ketika mereka taat kepada Allah, mereka diberkati
luar biasa, bangsa-bangsa takut kepada umat Israel. Takut bukan karena
Israelnya, tetapi karena ada Allah yang maha kuasa bersama-sama dengan
umat-Nya, tetapi ketika mereka mulai tidak taat dan memberontak kepada Allah,
maka Allah juga menghukum mereka, meskipun mereka adalah umat pilihan Allah. Artinya
Allah tidak toleran dengan perbuatan dosa umat Israel.
Israel kemudian digambarkan seperti
ikat pinggang yang lapuk. Ketika mereka tidak menjadi umat yang berkenan kepada
Allah maka mereka disebut seperti ikat pinggang yang lapuk, yang tidak ada
gunanya untuk dipakai selain dibuang.
Waktu saya merenungkan FT ini,
sungguh saya disadarkan dan mengevaluasi diri saya sendiri. Saya berkata kepada
diri saya sendiri, saya akan menjadi seperti ikat pinggang yang lapuk yang
tidak berguna lagi apabila saya tidak menjaga hidup tetap berkenan kepada
Allah.
Pelayanan misi yang kita lakukan
bukan tentang lembaga misi WP, tetapi tentang Kristus yang diberitakan,
maksudnya kita orang-orang yang telah dipanggil dalam panggilan Tuhan yang
mulia ini, maka kita harus menjaga hidup kita tetap berkenan kepada Allah,
sebagai misionaris dimanapun kita berada dan melayani. Jika tidak, kita akan
seperti ikat pinggang yang lapuk yang tidak berguna di tangan Tuhan.
Apabila kita tidak siap dibentuk oleh
Tuhan untuk menjadi misionaris, ataupun yang melayani di lembaga misi WP, maka
Tuhan akan memakai orang lain untuk mengerjakan tugas-Nya. Kita bukanlah
satu-satunya orang yang bisa melakukan tugas Tuhan misi sedunia, banyak orang
yang bisa Tuhan pakai, tetapi kalau kita dipakai Tuhan, bersyukurlah, itu kasih
karunia Tuhan. Tuhan akan memakai orang yang sudah siap untuk pekerjaan-Nya
yang besar, memberkati bangsa-bangsa.
Pertanyaan saya adalah:
“Sudahkah kita siap dipakai Tuhan untuk memberkati bangsa-bangsa?” Jangan
sampai kita seperti ikat pinggang yang lapuk di tangan Tuhan yang pada akhirnya
dibuang.
Mari lihat hidup kita masing-masing
di hadapan Tuhan, dengan sikap saya terhadap orang lain, apakah orang lain diberkati? Dengan sikap saya kepada Tuhan,
apakah Tuhan dimuliakan? Sikap saya memuji Tuhan seperti apa? Sikap saya
menyembah Tuhan seperti apa? Sikap saya melayani Tuhan seperti apa? Sikap saya
dalam memberi, seperti apa?
Kesimpulan:
Biarlah hidup yang berkenan kepada
Tuhan menjadikan kita seperti ikat pinggang yang baik, yang senantiasa melekat
pada Tuhan, dan dimanapun Tuhan utus kita, kita layak dipakaiNya. Amin.
Comments
Post a Comment