Berharap Penuh Dalam Bermisi Bersama Allah (1 Tesalonika 1:2-10)

 Salah satu quote yang terkenal tentang pengharapan adalah ... “As long as there is life, there is hope. "Selama masih ada kehidupan, masih ada harapan.”

Arti berharap adalah menginginkan terjadinya sesuatu, menantikan dan menunggu. (kata dunia selama kita hidup masih bisa berharap)

 What is hope? How would you define hope? People might think that hope only means wishful thinking.  Some would then use hope like this, “I hope to have a good family in the future, or I hope to have a big house, or an awesome relationship with someone.” The hope presented in the Scriptures is much different. Biblical hope is an assurance of a future based on a truthful past that shapes the way one lives in the present.

Kalau kita ditanya Apa itu harapan? Bagaimana Anda mendefinisikan harapan? Orang banyak mengira harapan hanya sebatas keinginan. Beberapa orang mungkin menggunakan kata harapan seperti, “Saya berharap memiliki keluarga yang baik di masa depan, atau saya berharap memiliki rumah yang besar, atau hubungan yang baik dengan seseorang.” Namun, Pengharapan yang disajikan dalam Kitab Suci jauh berbeda. Pengharapan yang alkitabiah adalah jaminan masa depan yang didasarkan pada kebenaran masa lalu yang membentuk cara hidup seseorang di masa kini. (Harapan itu sangat terkait dengan dimensi waktu...)

 

 

Pengharapan, bersama dengan iman dan kasih, membentuk tiga serangkai kebajikan Kristiani (1 Kor. 13:13) … Kasih adalah yang terbesar dari ketiganya, dan tanpa iman mustahil berkenan kepada Allah (Ibr. 11:6). Pengharapan juga menggambarkan komponen penting dari kehidupan orang percaya di dalam Kristus.

Sangat menarik bahwa di nats kita hari ini, Paulus juga menyebut ke-tiga hal ini dalam suratnya kepada Jemaat Tesalonika, mari kita lihat ayat 3 ... Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu (FAITH), usaha kasihmu (LOVE) dan ketekunan pengharapanmu (HOPE) kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

 

Ada tiga hal yang akan kita pelajari tentang apa yang akan terjadi (effect) jika kita “BERHARAP PENUH dalam bermisi bersama Allah” pada pagi hari ini.

  1. Injil diberitakan dan diterima dengan sukacita (4-6a)

 

Dalam PL, pengharapan adalah sesuatu yang pasti karena Allah adalah obyek pengharapan itu sendiri. Yeremia (17:13) “Allah adalah pengharapan Israel”. Mazmur (31:23-24) ada janji berkat dari Allah yang berharap padaNya, Ulangan (7:9) Harapan itu pasti karena Allah itu setia.

 

Kita juga melihat di PL bagaimana Allah menegor umatNya karena mereka berharap akan pertolongan manusia (kepada Etiopia dan Mesir) untuk membela mereka di saat diserang oleh musuh, kata FT kita akan menjadi malu (Yes. 20:5) jika kita menaruh harapan dan iman kita kepada manusia, Bapak ibu, pertolongan manusia terbatas dan mungkin tidak sesuai apa yang kita harapkan, kita bisa kecewa.

 

Maka di saat kita memerlukan sesuatu, dan kita berada dalam situasi yang terdesak, apakah kita mulai mengatasinya dengan doa meminta pertolongan Tuhan dalam masalah yang kita hadapi ataukah kita lebih duluan meminta pertolongan manusia? Mungkin kita berdoa tapi pikiran kita bekerja, kepada siapa saya bisa pinjam uang ya untuk membayar ini atau membeli itu? – apakah sungguh2 kita menantikan Tuhan atau mendahului Tuhan?

 

Di PL juga kita melihat bahwa ada “harapan” yang besar akan datangnya Mesias, namun harapan akan keselamatan larut dalam ketidakpastian. Di abad pertama dalam ajaran Yudaisme, sayangnya, sumber-sumber rabinik menceritakan bagaimana para rabi terkemuka menyatakan ketidakpastian tentang keselamatan mereka di ranjang kematian mereka. (Hal Lane) Hal ini biasa terjadi akan kepercayaan atas keselamatan karena perbuatan.

 

Masalahnya, kita tidak pernah bisa memastikan apakah perbuatan baik kita sudah cukup untuk kita layak diselamatkan? Dan di tengah-tengah situasi / pemikiran sebagian besar orang yang beragama Yahudi itu, di saat itulah Mesias datang, yaitu Yesus Kristus.

 

Sebenarnya kata harapan “elpizo, elpis” sangat jarang kita temukan dalam Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), hanya di Matius 12:18-21 (kutipan dari Kitab Yesaya 42:1-4) dikatakan “Yesus membawa pengharapan kepada bangsa-bangsa”, selain dari ayat itu, semua ayat yang berbicara tentang pengharapan merujuk tentang harapan keselamatan dan fokus pada misi penebusan Yesus dan kedatangan-Nya kembali.

 

1 Timotius 4:10 – itulah sebabnya, kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah, Juruselamat semua manusia (yaitu Yesus Kristus). Apa yang diajarkan Paulus kepada Timotius jelas juga diajarkan kepada Jemaat Tesalonika (konsisten) – ayat 5 – bahwa keselamatan pasti karena kasih karunia Allah melalui karya Kristus yang sudah selesai sempurna di kayu salib. Jika masih ada di antara kita yang ragu akan keselamatan, pengampunan dosa , dan kepasian masuk sorga, bisa datang kepada ibu gembala, bpk gembala untuk bisa dilayani, tidak apa2. Di dalam Yesus, kita tidak perlu bertanya-tanya lagi jika perbuatan baik yang kita telah lakukan sudah cukup untuk kita diselamatkan, masuk sorga.

 

Dan begitu juga, dalam bermisi bersama Allah, pengharapan kita akan keselamatan jiwa-jiwa ada di dalam Yesus. Ayat 4 Paulus berkata, “Dan kami tahu, hai saudara-saudara bahwa Ia telah memilih kamu.” Memang saat kita memberitakan Injil, kita belum tahu apakah orang itu ditentukan untuk selamat. Tapi seperti Paulus dengan Jemaat Tesalonika, ia melihat bahwa saat mereka mendengar Injil, mereka menerimanya dengan ‘sukacita’ – mereka bertobat (ay 6 – menjadi penurut kami dan penurut Tuhan), artinya ada perubahan hidup, menunjukkan buah-buah Roh. Dan pertobatan tersebut dikerjakan oleh Roh Kudus. Kita percaya bahwa Roh Kuduslah yang bekerja hingga seseorang yang mendengar kebenaran itu akhirnya bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Allah, menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.

 

Benar apa yang dikatakan Yesaya dan Matius bahwa “Yesus membawa pengharapan kepada bangsa-bangsa.” Tugas kita untuk membawa jiwa-jiwa dan bangsa-bangsa kepada Tuhan, merupakan kepastian pengharapan keselamatan bagi mereka yang percaya... (Saya pernah dengar begini bapak ibu, (deputasi) di tempat ini sudah pernah terjadi kebangunan rohani, mujizat dan tanda2 dan orang di sekeliling kami bukan tanggung jawab kami lagi – pertanyaannya, sekarang sudah generasi ke-berapa? Mungkin orang-orang yang hidup pada masa itu sudah pada mati, dan jika kuasa Roh Kudus tidak berubah, mengapa sekarang di tempat yang sama tidak ada lagi demonstrasi kuasa? RK kah yang berubah atau manusianya? Sekarang santai dan tidak peduli akan mereka yang binasa sekalipun mereka persis ada di lingkungan gereja.)


KEHIDUPAN KITA ADALAH BUKU YANG TERBUKA, DILIHAT OLEH BANYAK ORANG DI SEKELIKING KITA. – membawa kita ke poin yang kedua…. 

 

 

  1. Kita bisa bertahan dalam penindasan dan menjadi teladan (ayat 6b-9)

 

Pertanyaan: Bagaimana kita tahu bahwa kita masih ada pengharapan dalam hidup ini?

If you have not quit, you have some measure of hope, however little. (Jika Anda belum berhenti / menyerah, Anda masih mempunyai harapan, betapapun kecilnya.) Luar biasa bahwa Jemaat Tesalonika, melalui buah pekerjaan Roh Kudus tetap bersukacita dalam penindasan ataupun penderitaan.

 

Pengharapan membuat kita bertahan. Roma 8:18 “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”

 

Menerima Firman Tuhan dengan sukacita adalah wajar, makanya kita katakan Injil itu adalah Kabar Baik. Namun jika menerima Firman Tuhan dalam keadaan penindasan yang berat namun tetap dengan sukacita, itu adalah hal yang luar biasa. Kata “penindasan” berarti penganiayaan, tekanan, kesusahan, kesulitan. Paulus mengatakan bahwa dalam penindasan yang berat jemaat Tesalonika telah menerima Firman Tuhan dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

 

Terjemahan ESV untuk ayat 6 (saya parafrase) - kamu mengikuti (teladan) kami dan (teladan) Tuhan Yesus bahwa di tengah-tengah sengsara kamu menerima Firman dan menurutinya dengan sukacita. (Yesus menderita dan Paulus pun menderita)... Kata Paulus, kamu menderita tapi tetap bersukacita sehingga kamu menjadi teladan bagi umat Tuhan baik di Akhaya dan Makedonia bahkan melintasi tempat-tempat itu.

 

Roh Kuduslah yang memampukan, menguatkan, menghibur jemaat sehingga mereka bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih sekalipun dalam penindasan. (tadi di ayat 5 Pemberitaan Injil dikerjakan dengan kekuatan Roh Kudus, di ayat 6 sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus di tengah penindasan).

 

Seringkali penganiayaan, tekanan, kesusahan atau kesulitan dalam hidup ini, seperti masalah, sakit penyakit, doa yang belum dijawab Tuhan dan lain sebagainya membuat kita kecewa dan menyangkal iman kita atau membuat kita meninggalkan Yesus… saat itu kalau kita tidak berhati-hati, jika ada masalah kita tidak lagi berdoa, menjauhkan diri dengan persekutuan atau sudah tidak lagi merenungkan, membaca FT secara pribadi — akhirya iman, pengharapan dan kasih kepada Yesus menjadi “tumpul” (anak panah kalau sudah tumpul dan tidak dihasa akan menjadi tidak berguna.) dihasa itu kan sakit ya, tapi membuat ujung anak panah itu bisa berguna lagi dan mungkin lebih baik daripada sebelumnya…

 

Kalau kita menyadari bahwa kita telah menerima Roh Kudus saat kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita, maka kita akan dimampukan, dikuatkan dan dihibur Tuhan dalam menghadapi semuanya dan kita pasti akan bisa menerima Firman Allah dengan sukacita dalam segala keadaan seperti Jemaat Tesalonika. Mari kita terus membangun hubungan dengan Tuhan melalui Roh Kudus, maka kita akan tetap bersukacita dan berpengharapan dalam keadaan apapun.

 

Paulus begitu bersukacita ketika ia mendengar jemaat di Tesalonika bersukacita menerima Injil sekalipun banyak penderitaan yang sedang dialami. Firman Tuhan menjadi sebuah kesukaan yang besar. Inilah yang seharusnya menjadi kebanggaan pengikut-pengikut Kristus, bahwa sukacita kita adalah menemukan kehendak Tuhan dalam hidup kita.

 

Jemaat Tesalonika menjadi teladan untuk orang-orang percaya di Akhaya dan Makedonia (gambar peta), bahkan dikatakan bahwa berita itu bergema – bagaimana Jemaat Tesalonika menerima Injil, bertobat, berbuah dan tetap bersukacita walau di tengah penindasan yang berat. Kehidupan mereka yang demikian, menjadi kesaksian dan inspirasi untuk umat percaya di tempat lain.  Kalau dulu memang melalui mulut ke mulut (perkataan) atau surat ya mode komunikasi dari tempat satu ke tempat lain. Sekarang begitu banyak cara, kita mendengar kesaksian orang yang dulunya tidak percaya Yesus menjadi percaya. Bagaimana mereka bertemu dengan Yesus dan diselamatkan dan bertahan sampai meraih kemenangan iman bersama Kristus.

 

Hasil daripada pengharapan kita dalam Tuhan, bukan hanya kita menjadi teladan dan menjadi inspirasi bagi orang lain, tapi kita juga melayani Allah dan hamba-hambaNya. Ayat 9 – “Sebab mereka sendiri bercertia tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar.”  Ada sesuatu bukti yang bisa dilihat bagaimana Jemaat Tesalonika menerima para pelayan Tuhan sebagai bentuk kasih kepada Allah.

 

Jika kita benar menerima Firman Tuhan dengan sukacita – kita pasti akan ada aksi untuk melayani Allah dan kerinduan Tuhan Yesus, segala suku bangsa, jiwa-jiwa di sekeliling kita mendengar tentang Dia dan diselamatkan. Di saat kita benar-benar mengerti kerinduan hati Bapa, kita tidak mungkin tidak mengasihi (jiwa-jiwa) bangsa-bangsa. Pengharapan keselamatan kita pasti di dalam Yesus, dan pengharapan akan keselamatan bangsa-bangsa harus ada dan pasti ada dalam diri kita sebagai orang percaya. Alkitab jelas – Misi Allah adalah untuk memakai Gereja-Nya menjadi kendaraan keselamatan agar semua suku bangsa diselamatkan. (peran sudah dibahas oleh Pak Pamuji minggu lalu – Investasi waktu, dana, pikiran, keterampilan untuk memajukan Injil ke segala bangsa).

 

 

Roma 5:1-5

1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

 

Orang yang kuat adalah mereka yang mengalami kesulitan namun tidak menyerah.

 

Baca ayat 2b - membawa kita ke poin yang ke-3

 

  1. Menantikan Kedatangan Kristus ke-dua Kalinya (ayat 10)

 

Yesus sekarang berada dimana? Yesus yang telah dibangkitkan oleh Allah sendiri, naik ke sorga – Yesus hidup. Kita tidak menaruh pengharapan kita kepada orang yang mati. Yesus berjanji akan datang ke-dua kali untuk menjemput umat pilihanNya. Paulus menulis di 1 Tesalonika 4:16-17 “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” Saya tidak akan membahas kapan kebangkitan atau pengangkaan ini akan terjadi, pre-, post- atau mid-tribulation. Tapi pengharapan akan kemuliaan Yesus akan dinyatakan kepada dunia – kita percaya bahwa hari itu akan tiba. Jika kita mati – dalam Tuhan, pasti kita selamat dan masuk sorga. Saat kedatangan Yesus kedua kali tiba dan kita sudah mati, kita akan dibangkitkan dan yang masih hidup pada waktu itu akan diangkat ke angkasa dan Yesus akan memerintah selama-lamanya.

 

Pengharapan inilah yang membuat kita bertahan akan kesulitan, masalah, penganiayaan dan sengsara. Pengharapan inilah yang menjadi alasan kita mengapa kita walau dalam kekurangan, masalah yang bertubi-tubi, tetap mau setia kepada Yesus dan setia bermisi bersama Allah.

 

Film Misi Kolipoki :

Ada satu film misi yang saya sangat suka, judulnya Kolipoki, pertama kali nonton saya dalam pelatihan misi di Filipina – dan misionaris Inggris ini ke suatu pulau dan dia diutus ke sana, kesulitan luar biasa namun dia bertahan.

 

Orang damai yang menjadi teman pelayanannya, satu kali bertanya: Bagaimana jika apa yang kamu ajarkan adalah dusta?

Misionaris ini menjawab: Untuk apa saya datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mengajarkan dusta?

 


1 Korintus 15:12-17 

12 Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? 13 Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. 14 Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. 15 Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus --padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. 16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. 17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. 19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. 20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

 

Jika Yesus tidak dibangkitkan Allah, berarti kita menaruh harapan kita kepada orang yang mati, jika Yesus tidak dibangkitkan berarti Dia bukan Tuhan, hanya manusia biasa. Apa bedanya kita dengan orang Tionghoa yang berdoa di kuburan nenek moyang mereka? Atau dengan orang yang berdoa kepada Bunda Maria?

 

Karena ada pengharapan yang pasti inilah, kita setia menjalani hidup bersama Yesus, mengutus misionaris ke bangsa-bangsa. Kalau bukan sekarang, kapan Suku Amazigh akan dijangkau, kapan akan Suku Meskheti terbebas dari ajaran yang membelenggu mereka, kapan akan Suku Sunda mengalami lawatan Tuhan?

 

Kita bukan hanya memberikan pengharapan yang sementara, tapi pengharapan akan kekekalan dan hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan Yesus. Apa barang yang lebih berharga daripada itu? Tidak ada, kesulitan untuk ke ladang misi, kekurangan di saat-saat ekonomi sulit, kelemahan tubuh dan sakit penyakit, tidak bisa membuat kita putus asa dan tidak setia kepada Yesus atupun tidak taat kepada panggilan untuk bermisi bersama Allah. Suatu hal yang kita pegang teguh adalah janji bahwa Tuhan Yesus, dalam perjalanan mengikut Dia memberkati bangsa-bangsa – berjanji, Ia menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Pengharapan penuh kita harus kepada Tuhan saja, tidak boleh kepada manusia.

Comments

Popular posts from this blog

Perubahan Status dari Hamba menjadi Sahabat Allah untuk Misi Sedunia

Kasih Karunia Allah melalui Persembahan Misi

Kehidupan Yang Tidak Berkenan Kepada Allah Bagai Ikat Pinggang Yang Lapuk